Oleh Nazri Adlani Harahap : Kita selalu mengatakan bahwa guru adalah pekerjaan yang mulia. Kita diajarkan untuk menghormati guru. Kita mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah jalan peradaban.
Namun hari ini, mari kita bicara dengan logika dan kenyataan. Banyak guru sudah bekerja penuh waktu. Mengajar dari pagi hingga siang.
Menyusun perangkat pembelajaran. Mendidik karakter. Menjadi pembimbing moral bagi generasi bangsa. Tetapi mereka digaji 300–500 ribu rupiah per bulan. Dengan angka itu, apakah cukup untuk hidup layak? Makan, transportasi, listrik, kebutuhan keluarga?
Karena itulah banyak guru terpaksa mencari kerja sampingan. Bukan karena tidak mencintai profesinya. Bukan karena tidak profesional. Tetapi karena kebutuhan hidup tidak bisa ditunda.
Ironisnya, di tengah kesejahteraan yang belum layak itu, guru masih dibebani administrasi yang rumit. Sudah S1 bidang keguruan. Sudah dipersiapkan secara akademik menjadi pendidik.
Namun untuk mendapatkan insentif dan pengakuan profesional, masih harus mengikuti PPG, melewati kuota terbatas, proses panjang, verifikasi berlapis, unggah data, dan tumpukan berkas. Seolah-olah nilai seorang guru bukan dilihat dari dedikasi dan kualitas mengajarnya, tetapi dari kelengkapan administrasinya.
Kita ini diatur administrasi seakan-akan bukan manusia, seakan-akan bukan pendidik, tetapi hanya angka dalam sistem. Guru sibuk mengejar berkas. Guru sibuk memenuhi syarat. Guru sibuk mengikuti prosedur.
Sementara di sisi lain, ia masih harus memikirkan pekerjaan tambahan demi menutup kebutuhan hidup. Lalu dimana letak keadilan itu?
Jika pendidikan adalah prioritas, mengapa pendidiknya masih berjuang untuk bertahan?
Jika profesionalisme dituntut, mengapa kesejahteraan tidak dipastikan lebih dulu?
Keadilan bukan sekadar aturan. Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan jika guru adalah fondasi bangsa, maka kesejahteraannya bukan sekadar wacana,melainkan kewajiban.Karena bangsa yang besar tidak hanya pandai memuji guru, tetapi berani memastikan guru hidup dengan layak. (OPINI)






